
Prolog
Tidak semua identitas lahir dari ruang rapat. Ada yang tumbuh dari percakapan sederhana antara orang tua, guru, dan orang-orang yang percaya bahwa masa kanak-kanak layak diperlakukan dengan lebih serius.
Bagi kami, seragam bukan sekadar pakaian yang dikenakan setiap pagi. Ia adalah medium pertama yang paling dekat dengan tubuh anak. Ia hadir dalam keseharian, menyerap cerita, tawa, tanah, hujan, hingga pelukan. Maka ketika Playgrownd memutuskan untuk memperbarui identitas visualnya, kami merasa perubahan itu seharusnya tidak berhenti pada logo saja. Ia perlu hidup, bergerak, dan menemani anak-anak melalui selembar kain batik.

Dari Sebuah Logo, Menuju Sebuah Bahasa Visual
Proses ini dimulai dari sesuatu yang begitu menyenangkan. Rebranding Playgrownd tidak dikerjakan oleh sebuah agensi besar, melainkan melibatkan salah satu orang tua murid sendiri, Arsyad Fadli, ayah dari Neil, yang juga berprofesi sebagai visual identity designer.

Ia merancang sebuah identitas yang sangat sederhana namun penuh makna. Empat bentuk geometris, yaitu matahari, tanah, tanaman, dan pot, menjadi fondasi dari keseluruhan sistem visual.
Masing-masing berdiri sebagai objek yang mudah dikenali anak-anak. Namun, ketika disusun bersama, bentuk-bentuk tersebut melahirkan makna baru: sosok manusia yang bermain serta tanaman yang tumbuh. Sebuah metafora sederhana tentang filosofi Play & Grow: bermain untuk bertumbuh.
Kesederhanaan inilah yang membuat logo tersebut memiliki ruang untuk berkembang.

Ketika Logo Menjadi Motif Batik
Di Metaflora, kami percaya bahwa identitas tidak berhenti pada sebuah simbol. Identitas seharusnya mampu bercerita melalui berbagai medium.
Berangkat dari sistem visual tersebut, tim desainer visual Metaflora yang dipimpin oleh Izzul Muttaqin mulai mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Bentuk-bentuk dasar dipecah, diputar, dipadukan, lalu disusun kembali hingga melahirkan bahasa visual yang lebih kaya.

Dari dua helai daun lahirlah tanaman.

Dari bentuk lengkung tercipta ombak.

Dari permainan geometri muncul kupu-kupu dan ikan.

Bahkan siluet Badak Jawa, salah satu satwa paling langka di Indonesia, ikut hadir sebagai simbol pentingnya menjaga kehidupan. Di sela-sela komposisi, motif Kawung dan Truntum juga disisipkan sebagai representasi lahirnya kasih yang terus tumbuh, sebuah nilai yang terasa begitu dekat dengan dunia pendidikan.

Seluruh elemen tersebut tidak hadir sebagai ornamen semata, tetapi sebagai turunan langsung dari bahasa visual yang sama. Inilah yang membuat motif batik memiliki hubungan yang utuh dengan identitas Playgrownd.
Merancang Corak yang Benar-Benar Milik Anak
Sebagian besar seragam batik sekolah di Indonesia menggunakan pendekatan yang serupa: mengambil motif batik klasik, kemudian menambahkan logo sekolah di salah satu sudut kain. Tidak ada yang salah dengan cara tersebut. Namun, kami merasa dunia anak memiliki bahasa visualnya sendiri.
Anak-anak tumbuh bersama rasa ingin tahu. Mereka mengenal matahari, tanaman, kupu-kupu, air, dan hewan-hewan sebagai bagian dari pengalaman bermain mereka. Maka bukankah lebih masuk akal jika pakaian yang mereka kenakan setiap hari juga berbicara dalam bahasa yang mereka pahami?
Karena itulah setiap elemen pada motif ini dirancang agar terasa dekat dengan kehidupan anak. Sederhana, ceria, mudah dikenali, namun tetap memiliki kedalaman makna ketika dibaca lebih jauh. Kami berharap seragam ini bukan hanya menjadi identitas sekolah, tetapi juga ruang kecil yang mengajak anak-anak untuk terus memperhatikan alam di sekitar mereka.

Tradisi Lama untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Di balik visual yang terasa modern, proses pembuatannya tetap berpijak pada tradisi. Kain ini diproduksi menggunakan teknik batik cap, kemudian diwarnai dengan pewarna alami indigo yang berasal dari tanaman Strobilanthes cusia yang dibudidayakan di dataran tinggi Pekalongan.

Kami selalu percaya bahwa cara sebuah benda dibuat akan memengaruhi cerita yang ia bawa. Ketika anak-anak mengenakan pakaian yang lahir dari proses yang menghormati alam, kami berharap secara perlahan mereka juga belajar menghormati alam itu sendiri. Mungkin bukan hari ini. Mungkin bukan besok. Namun, seperti sehelai daun yang tumbuh perlahan, nilai-nilai itu akan menemukan waktunya.

Epilog
Kolaborasi ini mengajarkan kami bahwa identitas terbaik lahir ketika banyak pihak ikut merasa memilikinya. Orang tua menghadirkan gagasan. Sekolah menghadirkan visi. Metaflora menerjemahkannya menjadi kain yang dapat dikenakan setiap hari.
Hasil akhirnya bukan sekadar seragam baru, melainkan sebuah ekosistem visual yang tumbuh dari nilai yang sama: bermain, belajar, mencintai alam, dan bertumbuh bersama. Karena pada akhirnya, pakaian tidak hanya membentuk penampilan. Ia juga dapat menjadi cara paling halus untuk menanamkan cara pandang kepada generasi berikutnya.
