
Rekah memaknai hari raya sebagai perjalanan kembali pada diri yang pernah patah lalu memilih bangkit. Seperti bunga yang tidak mekar sekaligus, manusia pun berproses membuka diri perlahan. Belajar percaya kembali pada cahaya, bukan sekadar menerima, tetapi tumbuh lebih lembut dan lebih kuat.
Semangat itu diterjemahkan melalui siluet kebaya dan beskap janggan yang dihadirkan dalam bentuk yang lebih sederhana dan bersih, selaras dengan suasana hari raya yang khidmat. Ditenun dari katun tanpa mesin, dikerjakan dengan sadar dan bertanggung jawab. Setiap helainya menghadirkan tekstur alami dan kenyamanan yang jujur merayakan tradisi dengan cara yang tenang dan bermakna.